Searching...

Popular Posts

Friday, 12 April 2013

Mitos Rumah Tususk Sate

02:52
Mitos Rumah Tususk Sate


Rumah Tususk Sate 

Mitos Rumah Tususk Sate - RUMAH yang terletak di tikungan dari ujung jalan, dalam Feng Shui disebut rumah di ''sudut L''. Jenis rumah seperti ini sekarang sering ditemukan di banyak kompleks perumahan, khususnya real estate yang bersifat regency. Maksudnya, kompleks perumahan yang sengaja didesain dalam lingkup tertutup, dengan jalan keluar-masuk hanya melalui satu pintu. Bentuk seperti ini dimaksudkan untuk memberikan privasi bagi penghuni. Jika tidak disiasati dengan benar, rumah di "sudut L" bisa menimbulkan masalah.
Berdasarkan pengamatan, ternyata rumah yang terletak di "sudut L" kurang begitu diminati masyarakat. Walaupun laku, biasanya pada urutan paling akhir sesudah rumah di posisi sudut atau hook. Pihak pengembang (developer) pun sadar bahwa posisi rumah di "sudut L" memang cukup sulit dijual, sama sulitnya dengan rumah posisi "tusuk sate" (presis di ujung pertigaan berhadapan dengan jalan) sehingga mereka biasanya memberi diskon khusus bagi mereka yang berminat.

Dalam menangani tanah di tikungan yang bersudut 90 derajat itu, pihak pengembang menyiasatinya dalam dua cara. Pertama, tanah berbentuk "L" tersebut dibagi dua sehingga masing-masing lahan menjadi berbentuk trapesium. Bentuk trapesium dengan bagian depan sempit dan bagian belakang lebar sering diasumsikan sebagai tanah "ngantong" (di Bali disebut bubu) yang justru banyak dicari orang. Tetapi jangan salah sangka. Rancangan yang tidak hati-hati justru akan menciptakan lahan berbentuk segi tiga yang paling dipantang dalam Feng Shui. Cara kedua, meneruskan salah satu jalan sebagai upaya menghilangkan "sudut L" dan mengubahnya menjadi bentuk "T". Tetapi konsep ini kurang diminati, karena pihak pengembang akan kehilangan lebih banyak lahan, justru menciptakan posisi "tusuk sate", menciptakan rumah yang terletak di jalan buntu.

Dari sisi desain, bentuk lahan trapesium memang cukup merepotkan saat merancangnya. Apalagi kalau bidang depannya sangat sempit (biasanya langsung habis untuk pintu garasi). Menganalisis Feng Shui untuk rumah yang terletak di "sudut L" ternyata juga sama sulitnya seperti arsitek merancang bangunan di atas lahan tersebut. Ini karena banyak kekurangan yang mengundang masalah.

Apabila lahan tersebut tidak dibelah, melainkan ditawarkan dalam satu paket, maka tanah tersebut bentuknya tidak lagi kotak tetapi pada salah satu sudutnya akan terpotong atau diistilahkan "kehilangan sudut". Selain bentuk lahan yang tidak berupa kotak utuh, tercipta dua buah posisi "tusuk sate" dari dua arah jalan yang menikung. Penampang depan bidang tanah yang "tertusuk" tersebut menghasilkan nilai yang tidak menguntungkan. Pukulan dari dua "tusuk sate" akan mengganggu rezeki, ketenangan, dan faktor kesehatan bagi penghuni.

Apabila lahan dibagi menjadi dua, pembagian biasanya dilakukan dengan membuat garis melintang diagonal di tengah, dari ujung sudut belakang ke sudut tengah depan. Langkah ini akan menciptakan lahan yang berbentuk trapesium. Masyarakat awam sering terjebak menganggap lahan trapesium sebagai tanah "ngantong" (bubu) yang dapat membawa berkah dan rezeki. Sayang, anggapan ini sering keliru. Tanah yang disebut "ngantong" (bubu) adalah apabila lebar belakang tidak lebih dari satu setengah kali dari lebar depan. Kalau lebar belakang hampir 3 kali dari lebar depan, maka tanah tersebut dalam Feng Shui sering diidentifikasikan sebagai tanah segi tiga. Selain itu, tanah tersebut juga berada di posisi "tusuk sate" yang mempunyai nilai buruk dalam penilaian Feng Shui.

Bentuk tanah trapesium kalau tidak ditangani secara hati-hati akan mengundang masalah, khususnya penyakit. Ditangani secara hati-hati maksudnya adalah perancangan bentuk rumah harus disertai analisis Feng Shui khusus agar menghindari posisi "tusuk sate" dan segi tiga. 

Mitos Rumah Tususk Sate

 

0 comments:

Post a Comment

Note: only a member of this blog may post a comment.