Searching...

Popular Posts

Saturday, 23 February 2013

Ilmu Tenaga Dalam (Sebuah Pengalaman Empiris)

02:04
 https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhIpTNq6oZmaX8uisrLQuQcSngXamytTeqNJQ2RWtJMbi7FOqyp2gJQ3brnXhtj7z8CES7_TfRBA13yAvRuRdEJaElU4obxOHecXTPMzcxj3FTm8TC5xvrCfK8CnZWXe72Qv7p8ii46nJA3/s1600/Tenaga+Dalam.png.jpg

Dahulu sekali sempat saya mencibir ilmu tenaga dalam. “Cih…masa ada lawan jatuh tanpa disentuh? Mustahil ada musuh mampus tanpa di wedhus! Ya…pencibiran saya bahkan sampai di ubun-ubun saat kawan dekat mengajak saya untuk ikut pelatihan silat tenaga dalam di suatu kawasan, di Bandung.

“Sudah…ikut saja dulu. Setelah kau ikut baru kau boleh memutuskan untuk gabung atau tidak. Kenal saja dulu siapa tahu kau akan merasakan sayang setelah kau kenal!”

Dan saya pun akhirnya setuju untuk langsung bertemu dengan guru besar ilmu silat tenaga dalam yang bernama, sebut saja, Pak Eman.

Menurut Pak Eman, ada dua kategori ilmu tenaga dalam yang bisa dipelajari. 1) ilmu tenaga dalam murni yang langsung mengolah menggunakan fisik dengan tujuan untuk membangkitkan sendiri tenaga dalam dari dalam tubuh. 2) Ilmu tenaga dalam instant (tidak murni) yaitu tenaga dalam yang bisa didapat secara instant dengan menggunakana “jampi-jampi” atau membaca salah satu surat atau amalan dalam Al-Quran hingga ribuan kali. Bahkan seharian penuh tanpa makan dan minum.

Mana yang lebih hebat dan cepat? Pak Eman menyarankan untuk menggunakan ilmu tenaga dalam murni karena selain bisa sambil berolahraga, juga karena model ilmu tenaga dalam tersebut tidak memiliki “pantangan”. Adapun kelemahan model tenaga dalam ini menurut dia adalah waktu yang dipelukan untuk mempelajarinya relatif lama, minimal 6 bulan-1 tahun. Tetapi meski demikian ilmu itu akan tetap ada dalam diri si empunya hingga kapanpun selama masih berlatih.

Model yang kedua, ilmu tenaga dalam instant (sesuai dengan namanya “instant”), bisa diperoleh dalam waktu sekejap. Sehari malah beberapa menit saja bila menggunakan metode “diisi”. Tetapi, masih kata Pa Eman yang sering sekali dipanggil “Raja Jin” karena pengetahuannya yang luas mengenai mahluk bernama Jin, ilmu model tersebut bila dikaitkan dengan konteks agama Islam sarat dengan nuansa “syirik” karena lebih banyak menggunakan bantuan Jin. Selain memiliki pantangan cukup banyak, seperti tidak boleh makan sate, peuyeum, tidak boleh minum alkohol, dan lainnya, ilmu model tersebut juga lebih mudah untuk hilang seketika.

Setiap mahluk hidup memiliki tenaga dalam. Singa, dan gajah misalnya, coba saja dekati mereka dan rasakan “aura” menakutkan dari mahluk tersebut. Harimau, contoh lainnya, bahkan disebut-sebut mampu menjatuhkan monyet dari atas pohon dengan hanya bersirobok mata saja. Nah, aura yang dirasakan menakutkan tersebut biasa juga disebut tenaga dalam.

Biasanya tenaga dalam akan muncul ketika mahluk tersebut marah. Dalam konteks manusia, misalnya, ketika manusia marah pasti akan muncul suatu energi/aura yang mampu membuat manusia lainnya merasa ketakutan. Nah itulah tenaga dalam. Masalahnya, setelah manusia reda kemarahannya seketika itu juga tenaga dalamnya berkurang. Nah…fungsi dari mempelajari ilmu tenaga dalam ini adalah membuat tenaga dalam yang ada dalam tubuh kita itu konstan, tidak naik tidak turun.

Setelah mendengar teori singkat tersebut lalu saya diajak Pa Eman untuk beroleh pengalaman bagaimana cara merasakan dampak tenaga dalam agar lebih mempercayai bahwa memang tenaga dalam itu ada.

Saya pergi ke lapangan belakang rumah Pa Eman. Pa Eman menginstruksikan agar munculkan amarah dalam diri saya. Setelah muncul amarah maka Pa Eman memerintahkan saya untuk memukul dia sesuka hati. Tetapi dia berpesan…saat amarah sudah muncul dan hendak menyerang secara langsung tahanlah nafasmu dan fokuskan matamu ke mata saya. Karena menurut dia biasanya orang yang akan menyerang dan memukul lawannya pasti menahan nafas.

Maka saya pun marahlah. Saya lalu memukul dia. Ralat, berniat memukul dia dengan menahan nafas! Tanpa disadari dari kejauhan dia mengayunkan tangannya ke arah kaki! Dan…aneh bin nyata…melalui pengalaman empiris langsung, serta merta saya jatuh berguling-guling! Bingung sambil terlentang! Apa yang terjadi?
Dan…setelah kejadian yang tak mampu dijelaskan melalu nalar tersebut saya pun mengamini, melalui pengalaman empiris, bahwa tenaga dalam itu memang ada. Lawan memang bisa jatuh tanpan disentuh. Syaratnya…harus berlatih dengan keras. Mau coba? 



0 comments:

Post a Comment

Note: only a member of this blog may post a comment.