Jejak air di bawah tanah Mars membuat tim ilmuwan Badan Antariksa Amerika Serikat (NASA) mengalihkan fokus penelitian dari permukaan tanah. Kini, mereka memusatkan perhatian pada apa pun di bawah tanah Planet Merah. Mereka bisa meneliti batuan hasil erosi di perut Mars, dampak asteroid, ataupun bahan yang dihasilkan oleh cairan bawah tanah yang telah membuncah ke permukaan.
Cadangan air bawah tanah kemungkinan besar akan dijumpai di tempat ini itu ujar ilmuwan NASA, Joseph Michalski. Tim ilmuwan berfokus pada Kawah McLaughlin karena merupakan salah satu dari beberapa kawah terdalam di Mars. Kedalaman kawahnya mencapai 2,2 kilometer dan terletak di belahan bumi utara Mars. Komposisi mineral di lantai Kawah McLaughlin menunjukkan tempat itu dulunya bekas danau kuno. Saluran air yang terlihat di dinding timur sekitar 500 meter dari lantai kawah juga mengisyaratkan kehadiran bekas permukaan danau.
Michalski mengatakan, penelusuran jejak air bawah tanah bertujuan untuk membuktikan gagasan yang menyebutkan air bawah tanah dulunya kerap menembus hingga permukaan di banyak lokasi di Mars. "Ada bukti yang kuat di kawah ini yang menunjukkan fenomena itu," katanya.
Kehidupan Mars Ada di Bawah Tanah?
Air merupakan petunjuk adanya kehidupan. Unsur inilah yang kini sedang diburu oleh Badan Antariksa Amerika Serikat (NASA) di Mars.
NASA telah mengerahkan banyak misi ke Mars selama beberapa dekade terakhir. Tujuannya untuk meneliti jejak kehidupan di permukaan Mars dan kemungkinannya dihuni. Namun permukaan Mars diketahui sangat dingin, kering, dan mengandung unsur kimia mematikan. Kondisi yang mustahil bagi makhluk hidup untuk bertahan. Bertolak dari kondisi itu, penelitian mulai beralih sasaran. Pemindaian tidak lagi dipusatkan pada permukaan. Para ilmuwan NASA menduga bentuk kehidupan sederhana di Mars mungkin tersembunyi di bawah tanah.
Di Bumi, mikroba dapat hidup di bawah tanah hingga kedalaman lebih dari 5 kilometer. Jumlah mikroba di bawah tanah diperkirakan separuh dari jumlah seluruh makhluk hidup penghuni bumi. Sebagian besar mikroba bawah tanah mewakili beberapa jenis organisme yang paling primitif. Petunjuk ini mengisyaratkan bahwa kehidupan sederhana selalu dimulai di bawah tanah. "Setidaknya bertahan di sana selama serangkaian dampak kosmik yang menghancurkan Bumi," ujar peneliti NASA, Joseph Michalski. Dampak kosmik yang dikenal sebagai Late Heavy Bombardment itu terjadi sekitar 4,1-3,8 miliar tahun lalu.
Permukaan Mars memiliki daya gravitasi sepertiga dari bumi. Lapisan keraknya kurang padat dan lebih berpori dibandingkan Bumi. Kondisi ini, menurut Michalski, membuat air lebih mudah meresap ke bawah tanah. Oleh karena itu menemukan jejak air di Mars menjadi sangat penting. Di Bumi, hampir seluruh cairan mengandung organisme. Asumsi yang sama diterapkan di Mars. Michalski mengatakan, mikroba di bawah tanah Mars hidup ditopang oleh sumber energi dan reaksi kimia yang mirip dengan yang mendukung kehidupan organisme di Bumi.
"Kerak yang dalam selalu menjadi tempat yang paling layak huni di Mars," kata Mishalski, yang juga peneliti di Planetary Science Institute. Bawah tanah akan menjadi tempat yang tepat untuk mencari bukti-bukti keberadaan organisme di Planet Merah.
Ada Danau Kuno di Mars?
Badan Antariksa Amerika Serikat (NASA) menemukan bukti baru di balik potret teranyar sebuah kawah besar di Mars. Kawah bernama McLaughlin ini menggambarkan keberadaan danau kuno di Planet Merah.
Kawah McLaughlin terbilang raksasa. Diameternya sekitar 92 kilometer. Dasar kawah juga sangat dalam sehingga air bawah tanah diduga mengalir ke kawah di beberapa titik di masa lalu. NASA memperoleh foto lewat wahana Mars Reconnaissance Orbiter. Para peneliti NASA mengatakan, potret ini mengungkapkan bukti baru keberadaan lingkungan bawah tanah yang basah di Mars. "Ini mengisyaratkan bahwa kehidupan mungkin pernah tinggal di sana," kata peneliti NASA.
Bahkan, para peneliti membuka kemungkinan masih adanya kehidupan di Mars. Mereka yakin penelitian tentang kehidupan di Mars bisa menjelaskan asal usul kehidupan di Bumi. Saat ini kawah dalam kondisi kering. Namun, jejak mineral dan sejumlah bukti lain menunjukkan tempat itu dulunya berupa cekungan besar yang berisi air. "Kawah McLaughlin memberikan bukti terbaik tentang pembentukan karbonat di dalam lingkungan danau," kata Joseph Michalski dari Planetary Science Institute di Tucson, Arizona. Ia menampik teori tentang karbonat yang berasal dari luar kawah.
Garis Gelap di Tebing Mars Diduga Air Garam?
Air garam diduga menjadi sumber pembuat garis-garis gelap yang muncul di permukaan Mars selama musim panas. Pola aliran garis gelap ini muncul menuruni sebuah lereng selama akhir musim semi dan memudar di musim dingin lalu muncul kembali pada musim semi berikutnya. Para peneliti mengatakan, itu bisa disebabkan oleh air garam yang mengandung kalsium klorida. Jika air memang ditemukan di planet merah itu, maka bisa membuktikan bahwa tempat ini layak dihuni untuk berbagai macam kehidupan.
Pola aliran musiman itu terlihat oleh pesawat ruang angkasa Mars yang mengorbit. Saat ini dua penelitian telah menjelaskan asal mula garis-garis gelap itu boleh jadi disebabkan oleh pencairan dan penguapan air asin beku. Garis-garis itu pertama kali terlihat tahun lalu oleh NASA Mars Reconnaissance Orbiter pada akhir musim semi menuju awal musim gugur. Penelitian yang dipublikasikan pada saat temuan itu mengatakan bahwa zat kimia yang mudah menguap itu bisa jadi yang menyebabkan pembentukan garis gelap itu. Tetapi lingkungan planet terlalu hangat untuk karbondioksida beku dan terlalu dingin untuk air murni.
Beberapa jenis air garam diteliti untuk menemukan formula yang tepat. Hingga saat ini belum ada teori yang bisa menjelaskan formula air garam itu terdiri dari bahan apa saja. "Kami harus menemukan campuran garam dan air yang dengan mudah datang dan pergi," ujar Vincent Chevrier, Asisten Peneliti di Arkansas Center for Space and Planetary Sciences.
Chevrier dan asisten penulis Edgard Rivera Valentin yang berada di Univeritas Brown sedang menyelidiki bentuk garam yang membentuk Mars untuk mengetahui bagaimana formula itu bisa mempengaruhi titik leleh dan penguapan es maupun air. Mereka menggunakan model pada tanah dengan kedalaman hingga 20 cm. Pasalnya, di luar kedalaman itu suhu musiman tidak akan mempengaruhi aspek pembekuan dan pencairan campuran air garam. Mereka menemukan kalsium klorida menjadi formula yang tepat.
"Dalam satu hari, kami bisa membuat cairan yang cukup untuk membuat fitur aliran di permukaan," ujar Chevrier. Model juga menjelaskan mengapa fitur aliran itu mudah menghilang ketika dilakukan penguapan dalam model. Menurutnya, semakin mudah mencair maka makin mudah juga menguap. Para peneliti menunjukkan bahwa mereka bisa melelehkan air garam kalsium klorida dalam jumlah yang cukup sehingga tak benar-benar menguap. Ini bisa menjelaskan tentang garis gelap yang ada di planet merah itu.
Tingkat penguapan yang tinggi di permukaan seperti yang ditunjukkan dalam model, dapat menjelaskan mengapa jika ada air maka garis-garis itu akan meghilang relatif lebih cepat. Dan dapat menjelaskan mengapa gambar spektometri Mars belum mampu mengidentifikasi tanda-tanda air.
Benarkah Sumber Air di Bumi dan Mars Sama?
Penelitian menunjukkan air yang berada di bumi dan Mars berasal dari sumber yang sama, yaitu meteorit yang mendarat di kedua planet ini. Lautan di bumi dan air yang mungkin pernah mengalir di planet Mars berasal dari sumber yang serupa. Penelitian menunjukkan bahwa sumber itu adalah meteorit yang mendarat di kedua planet terestrial ini.
Para peneliti menganalisa tampilan dua batu langka Mars yang menabrak bumi sebagai meteorit. Mereka menemukan air Mars mungkin berasal dari blok planet yang mirip dengan yang membentuk bumi. Kedua planet ini mungkin terbentuk secara paralel, tapi kemudian mengambil jalur evolusi yang berbeda. Temuan ini bertentangan dengan ide umum bahwa keberadaan air di planet terestrial seperti Bumi dan Mars berasal dari komet. Sebaliknya, para ilmuwan berpikir bahwa air tersebut berasal dari meteorit chondritic kecil dan berisi mineral granular yang terintegrasi dengan planet yang dituju.
"Meteorit ini mengandung cairan basaltik yang terperangkap. Tidak berbeda dengan basal yang meletus di Hawai," kata John Jones, seorang petrologis eksperimental di NASA Johnson Space Center di Houston. Jones telah menulis laporan yang diterbitkan dsalam jurnal Earth and Planetary Science Letters bersama Tomohiro Usui yang memimpin penelitian ini. Menurut penelitian, dua meteorit Mars yang telah dipelajari menunjukkan dua sumber yang berbeda dari air kuno di planet merah itu. Satu batu luar angkasa berasal dari lapisan tengah Mars yang disebut dengan mantel. Diyakini meteorit ini menimbulkan jejak air dari interior terdalam planet. Dan jumlah yang sama dari jenis hidrogen ternyata juga ditemukan di bumi. Sementara meteorit yang lainnya diperkaya dengan bahan dari kerak dan atmosfer Mars.
Meteorit dari mantel Mars ternyata kering. Sementara, meteorit yang diperkaya tersebut diyakini memiliki kandungan air 10 kali lebih banyak. Ini menunjukkan bahwa permukaan Mars pernah mengalami keadaan yang sangat basah pada satu waktu. "Ada teori yang bersaing menjelaskan komposisi meteorit Mars yang beragam," kata Usui. Menurutnya, sampai penelitian ini belum ada bukti langsung bahwa lava primitif Mars berisi material dari permukaan planet merah ini.
Garis Gelap di Tebing Mars Diduga Air Garam?
Air garam diduga menjadi sumber pembuat garis-garis gelap yang muncul di permukaan Mars selama musim panas. Pola aliran garis gelap ini muncul menuruni sebuah lereng selama akhir musim semi dan memudar di musim dingin lalu muncul kembali pada musim semi berikutnya. Para peneliti mengatakan, itu bisa disebabkan oleh air garam yang mengandung kalsium klorida. Jika air memang ditemukan di planet merah itu, maka bisa membuktikan bahwa tempat ini layak dihuni untuk berbagai macam kehidupan.
Beberapa jenis air garam diteliti untuk menemukan formula yang tepat. Hingga saat ini belum ada teori yang bisa menjelaskan formula air garam itu terdiri dari bahan apa saja. "Kami harus menemukan campuran garam dan air yang dengan mudah datang dan pergi," ujar Vincent Chevrier, Asisten Peneliti di Arkansas Center for Space and Planetary Sciences.
Chevrier dan asisten penulis Edgard Rivera Valentin yang berada di Univeritas Brown sedang menyelidiki bentuk garam yang membentuk Mars untuk mengetahui bagaimana formula itu bisa mempengaruhi titik leleh dan penguapan es maupun air. Mereka menggunakan model pada tanah dengan kedalaman hingga 20 cm. Pasalnya, di luar kedalaman itu suhu musiman tidak akan mempengaruhi aspek pembekuan dan pencairan campuran air garam. Mereka menemukan kalsium klorida menjadi formula yang tepat.
Tingkat penguapan yang tinggi di permukaan seperti yang ditunjukkan dalam model, dapat menjelaskan mengapa jika ada air maka garis-garis itu akan meghilang relatif lebih cepat. Dan dapat menjelaskan mengapa gambar spektometri Mars belum mampu mengidentifikasi tanda-tanda air.
Penelitian menunjukkan air yang berada di bumi dan Mars berasal dari sumber yang sama, yaitu meteorit yang mendarat di kedua planet ini. Lautan di bumi dan air yang mungkin pernah mengalir di planet Mars berasal dari sumber yang serupa. Penelitian menunjukkan bahwa sumber itu adalah meteorit yang mendarat di kedua planet terestrial ini.
"Meteorit ini mengandung cairan basaltik yang terperangkap. Tidak berbeda dengan basal yang meletus di Hawai," kata John Jones, seorang petrologis eksperimental di NASA Johnson Space Center di Houston. Jones telah menulis laporan yang diterbitkan dsalam jurnal Earth and Planetary Science Letters bersama Tomohiro Usui yang memimpin penelitian ini. Menurut penelitian, dua meteorit Mars yang telah dipelajari menunjukkan dua sumber yang berbeda dari air kuno di planet merah itu. Satu batu luar angkasa berasal dari lapisan tengah Mars yang disebut dengan mantel. Diyakini meteorit ini menimbulkan jejak air dari interior terdalam planet. Dan jumlah yang sama dari jenis hidrogen ternyata juga ditemukan di bumi. Sementara meteorit yang lainnya diperkaya dengan bahan dari kerak dan atmosfer Mars.
Meteorit dari mantel Mars ternyata kering. Sementara, meteorit yang diperkaya tersebut diyakini memiliki kandungan air 10 kali lebih banyak. Ini menunjukkan bahwa permukaan Mars pernah mengalami keadaan yang sangat basah pada satu waktu. "Ada teori yang bersaing menjelaskan komposisi meteorit Mars yang beragam," kata Usui. Menurutnya, sampai penelitian ini belum ada bukti langsung bahwa lava primitif Mars berisi material dari permukaan planet merah ini.
Tanah Mars Mirip di Hawaii
Robot Curiosity milik Badan Penerbangan dan Antariksa Amerika Serikat (NASA) telah merampungkan analisis pertama dari tanah Mars. Robot beroda enam itu menemukan tanah planet merah serupa dengan material tanah yang ada di Bumi. "Tanah Mars terbuat dari bahan yang mirip dengan tanah vulkanik basaltik yang dijumpai di kepulauan Hawaii," lansir NASA. Temuan mengejutkan ini diketahui setelah Curiosity menentukan sifat-sifat tanah dan debu halus yang tersebar di seluruh permukaan Mars dengan teknologi X-Ray. Para pakar NASA menyatakan, analisis terhadap struktur mineral bisa membantu mengungkap rincian tentang kondisi lingkungan dan sejarah terbentuknya planet Mars.
David Bish, pakar perangkat kimia dan mineral yang terpasang pada Curiosity, mengatakan sampel debu yang telah dianalisis konsisten dengan ide awal yang menyebutkan material yang tersimpan di Kawah Gale di Mars merekam transisi perubahan lingkungan di planet itu dari basah menjadi kering. "Batuan kuno, seperti konglomerat, menunjukkan adanya aliran air. Sedangkan mineral dalam lapisan tanah yang muda konsisten dengan interaksi terbatas dengan air," ujar Bish.
Sampel debu dan pasir itu diambil dari sebuah situs yang dinamai Rocknest. Perangkat kimia dan mineral Curiosity lantas menyaring sampel tersebut untuk menghilangkan partikel berukuran lebih besar dari 150 mikrometer, atau selebar rambut manusia. Bish mengatakan, sebagian besar permukaan Mars ditutupi debu. Beberapa partikel debu tampaknya telah tersebar di seluruh permukaan Mars selama terjadinya badai berskala global. Sedangkan pasir lebih bersifat lokal dan berasal dari lokasi yang tidak terlalu jauh.
"Kini kami tahu mineral penyusunnya mirip dengan materi basaltik, dengan sejumlah besar feldspar, piroksen, dan olivin. Sekitar separuh material tanahnya adalah bahan non-kristal, seperti kaca vulkanik atau produk dari pelapukan kaca," ujar Bish. Analisis batuan konglomerat menunjukkan bahwa jejak aliran air di Mars berasal dari periode miliaran tahun lalu. Namun, temuan terbaru menunjukkan kondisi kering di permukaan Mars terjadi pada periode yang lebih baru dari sejarah planet tersebut. "Kami memiliki banyak data tentang mineralogi tanah Mars. Hasil analisis difraksi sinar X menunjukkan sejumlah mineral berukuran halus, dan beberapa adalah mineral baru," kata David Blake, peneliti utama kimia dan mineral NASA.
0 comments:
Post a Comment
Note: only a member of this blog may post a comment.